tugas resume buku budi winarno

Tahun 1950-an, David Easton mengembangkan suatu kerangka kerja yang kemudian dia sebut sebagai pendekatan sistem politik. Penjelasan mengenai kehidupan politik adalah dengan melihatnya sebagai suatu sistem, yang mana berfungsinya suatu bagian tidak akan dapat dipahami sepenuhnya tanpa memperhatikan cara berfungsinya keseluruhan bagian. Pada perkembangannya kerangka analisis sistem yang dikembangkan oleh easton juga dimanfaatkan untuk menjelaskan kehidupan politik suatu negara.

Sistem politik harus dibedakan dengan bahasa-bahasa terdahulu, seperti negara, pemerintahan dan bangsa. Menurut Almond dan Powell, ketika berbicara tentang sistem politik maka yang kita maksudkan adalah semua interaksi yang mempengaruhi semua penggunaan paksaan fisik yang sah. Dalam hal ini, sistem politik memasukkan tidak hanya institusi pemerintahan tetapi semua struktur dalam semua aspek-aspek politik.

Ciri-ciri sistem politik:

  1. Iudentifikasi, mengidentifikasi unit-unit politik tersebut dengan menggambarkan dan memisahkannya dengan unit-unit lain.ciri ini meliputi; unit-unit sistem politik dan batas.
  2. Input dan output, input berupa tuntutan-tuntutan dan dukungan. Serta output adalah konsekuensi.

Struktur dan budaya politik

Pemahaman tentang struktur dan budaya politik memegang peran penting dalam memahami kerangka krja sistem politik, biasanya ada 3 fungsi yang hampir selalu ada. pertama, fungsi sosialisasi, politik mengembangkan dan memperkuat sikap-sikap politik dikalangan penduduk. Kedua, rekrutmen politik, fungsi penyeleksian rakyat untuk kegiatan politik. Ketiga, komunikasi politik, bertanggung jawab terhadap mengalirnya informasi dari rakyat.

Kemudian budaya politik, budaya politik juga mempunya peran penting dalam turut membantu menjelaskan sistem politik meskipun, budaya politik bukan merupakan satu-satunya aspek politik. Menurut Sidney Verba, budaya politik tidak merujuk pada interaksi struktur politik baik formal maupun informal. Bukan juga pada pola interaksi diantara aktor-aktor politik tapi sebagaiman dikemukakan David Easton, budaya politik merujuk pada tingkatan atau tingkah laku yang membentuk tujuan-tujuan umum maupun khusus mereka dan prosedur-prosedur yang mereka anggap harus diterapkan untuk meraih tujuan-tujuan tersebut.

Sistem otoritarianisme orde baru

Orde baru secara intensif memelihara stabilitas politik melalui 2 strategi pokok, yakni strategi diskursif dan banguna institusional. Strategi diskursif yang telah dilaksanakan meiputi pemikiran-pemikiran mengenai diskontinuitas historis dan konstitusionalisme yang berfungsi tidak hanya sebagai landasan ideologis dimana pengembangn hegemoni kekuasaan dibangu melainkan sebagai justifikasi untuk menghalalkan “penindasan, pelarangan dan penggusuran orang-orang yang tidak sepaham”. Selama orde baru, berbagai aktor yang dapat menjadi penyeimbang dan pengawas lembaga-lembaga publik. Partai politik telah “dimandulkan” melalui kebijakan massa mengambang dan disederhanakan menjadi 3 partai saja, lebih parahnya dengan kebijakan asas tunggal pancasila sebagi partai=partai politik tidak dapat menggunakan ikatan ideologisnya untuk mengikat konstituennya. Akibatnya, birokrasi benar-benar menjadi institusi yang dominan dalam sistem politik indonesia. Hal ini mendorong individu-individu didalamnyauntuk berperilaku korup, nepotis dan kolusif.

Politik dan pemerintahan ini telah memandulkan fungsi-fungsi struktur politik demokrasi, partai-partai politik yang pada masa orde lama berkembang baik, telah direduksi secara perlahan-lahan pada masa orde baru menjadi 2 partai saja. Ketiadaan pembanguna politik juga membuat politik pada masa orde baru minim partisipasi politik. Partai-partai plitik yang jumlahnya hanya ada 2 dan kelompok-kelompok kepentingan, media massa, dan kelompok-kelompok diluar negara tidak mempunyai pengaruh signifikandalam proses politik. Kegagalan partai politik dalam dalam melakukan pendidikan dan recruitmen politik sebagi akibat pemandulan yang sistematis telah membuat soeharto menjadi tokoh sentral yang tidak mempunyai pesaing dalam arena perebutan kursi presiden.

Peran dan posisi militer

Pada dasarnya memang militr mempunyai peran yang cukup signifikan dalam menopang kekuasaan otoriter orde baru. Bahkan menjadi tonggak untuk menjaga kelanggengan kekuasan soeharto. Dalam situasi seperti inilah, tentara lebih gemar memerangi rakyat sendiri yang tidak sepaham dengan penguasa, dibandingkan menjadi tentara profesional yang menjadi integritas kedaulatan nasional.

Krisis dan keretakan sistem

Tak dapat disangkal lagi bahwa krisis moneter yang berujung pada krisisi multi dimendi telah membuat kondisi kemiskinan menjadi semakin buruk. Implikasi dari kegagalan ini adalah kehancuran basisi legitimasi irde baru, yakni pembangunan ekonomi, padahal, diluar pembangunan ekonomi rezim soeharto tidak mempunyai basis legitimasi. Pembangunan politik demokrasi tidak dilakukan sma sekali. Kebebasan pers juga dikekang dan kebebasan sangat ditentukan oleh ‘mood’ penguasa.

Reformasi politik

Penggunaan istilah reformasi kembali menjadi populer pada masa Martin Luther. Soetandyo Wignjosoebroto, menyimpulkan bahwa istilah reformasi mengimplikasi unsur dan makna ‘koreksi kritis’. Tidak hanya dimaksudkan sebagi usaha membentuk ulang dan membangun ulang suatu struktur, melainkan sebagai usaha melaksanakan perbaikan tatanan didalam struktur. Reformasi berbeda dengan revolusi. Menurut Huntington, revolusi melibatkan perubahan nilai-nilai, struktur, lembaga-lembag politik, kebijakan-kebijakan pemerintah dan kepemimpinan sosial politik dalam tempo yang begitu cepat, menyeluruh, dan penuh kekerasan. Perjuangan kelompok reformis merupakan perjuanagn dalam sisi ganda, yaitu menghadapi kelompok-kelompok konservatif dan revolusioner. Istilah reformasi bukanlah merupakn istilah yang mempunyai makna tunggal. Penggunaannya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial politik yang melingkupinya. Meskipun reformasi merujuk pada kasusu yang kurang lebih sama, yakni usaha untuk melakukan pembaharuan, ttapi motif dan tujuan-tujuan dilakukan reformasi mengalami perbedaan.

Konteks reformasi politik di indonesia

Dalam pandangan beberapa pengamat, reformasi peru dan harus dilakukan karena kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh soeharto. Pertam, orde baru telah membangun sistem politik monolitik, yang sebenarnya bertentangan denga heterogenitas bangsa indonesia. Kedua, pembatasan jumlah partai politik yang bertolak belakang dengan modernisasi ekonomi, yang menjadi pilar utama legitimasi pemerintahan orde baru. Ketiga, politisasi birokrasi yang menuatkan sifat alamiah birokrasi otoriter. Keempat, membangun klientelisme ekonomi melalui praktik kolusi antar birokrasi pemerintahan dengan swasta sehingga kedua kekuatan utama dinamika masyarakat dikontrol oleh kelompok kecil yang dekat denga kekuasaan. Kelima, melakukn represi ideolgis serta penggunaan wacana otoriter secara eksesif sehingga memunculkan ketakutan politik di dalam masyarakat yang sebenarnya bertujuan untuk menghindari kritik masyarakat atas pmerintahan dan sistem politik. Keenam, memanipulasi simbol-simbol kultural sehingga rakyat memandang penguasa sebagi makhluk paling arif, tanpa cacat, dan karenanya tidak perlu dikontrol. Beberapa diantara reformasi polityik yang prnah dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut, pertama,pentyelenggaraan pemilihan umum sebagai wujud partisipasi rakyat. Krdua, reformasi struktur dan fungsi-fungs politik yang melekat pada struktur tersebut. Ketiga, reformasi sistem kepartaian. Pada masa orde baru, partai politik tidak diberi ruang untuk berkembang da n melaksanakan fungsinya. Keempat, reformasi penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Budaya politik

Setiap sisitem politik mempunyai tujuan-tujuan bersama yang ingin diraihnya. Semuanaya ini memerlukan struktur atau elemen-elemen yang mendukung ke arah pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dengan demikian, memahami struktur dan fungsi politik menjadi penting untuk memahami bagaimana sistem politik bekerja. Pemehaman terhadap struktur dan fungsi harus pula diikutu dengan pemahaman terhadap budaya politik yang berkembang dalam sisitem politik tersebut. Ini, karena bagaimanapun, bekerjanya struktur dan fungsi-fungsi politik akan sangat ditentukan oleh budaya politik yang melingkupinya.

Budaya era reformasi

Struktur politik dan fungsi-fungsi politik mengalami perubahan, tetapi tidak pada budayanya. Kenyataan seperti ini dapat dimengerti mengingat perubahan-perubahan budaya dalam suatu masyarakat, apapun budayanya akan memerlukan waktu yang lama. Dengan kata lain, mengubah budaya politik tidak semudah mengubah struktur dan fungsi-fungsi politik. Trlebih ketika budaya tersebut telah mengakar dalam kehidupan politik masyarakatnya. Dalam hala ini, budaya politik indonesia bergerak diantar subject-participant culture dan parochial-participant culture. Dalam sisitem politik demokrasi, layak tidaknya seseorang untuk menjadi pemimpin adalah pada kemampuannya dan bukan pada asal-usul orang tersebut. Kesimpulan yang dapat diambil dari paparan mengenai budaya politik ini adalah dtengah-tengah perubahan struktur politik, budaya politik, mengalami sedikit perubahan saja. Tapi perubahan struktur-struktur politik sebagai akibat reformasi politik demokratis yang berlangsung di indonesia sejak pertengahantahun 1998 telah menyumbangkan bagi perkembangan budaya politik partisipan. Perkembangan ini masih terjalin seiring dengan masih kuatnya budaya ptrimonial dan otoritarianisme politik yang masih berkembang dengan kalangan elit politik dan penyelenggaraan pemerintahan. oleh karena itu reformasi ataupun revolusi dibanyak negara dunia ketiga, menurut Sutandyo Wignjosoebroto, acapkali gagal mengubah konfigurasi-konfigurasi sistem politik yang sudah ada sejak lama.

Struktur politik formal

Dalam sistem politik, struktur dibedakan atas kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Menurut ajaran trias politica. Dalam perkembangannya, negar-negara demokrasi modern lebih cenderung menggunakan asas pembagian kekuasaan dibandingkan dengan menggunakan ass pemisahan murni sebagaimana diajarkan oleh John Locke dan Montesquieu. Dalam sisitem politik, pemerintahan dan birokrasi merupakan struktur politik penting karena menyangkut bagaiman pembuatan kebijakan dan implementasi kebijakan dilakukan. Menurut Almond dan Powell, Jr., agen-agen pemerintahan meskipn terspesialisasi dalam bnyak cara adalah multifungsional.

Struktur politik informal

ü  Partai–partai politik

Partai politik mengorganisasi partisipasi politik, dan sistem kepartaian akan sangatmempengaruhi batas-batas sampai dimana partisipasi tersebut dapat diperluas. Menurut Huntington, stabilitas, kekokohan, partai, dan sisitem kepartaian akan sanga tergantung atas derajat pelembagaan dan partisipasinya. Dalam sistem politik demokrasi, partai politik melaksanakan empat fungsi,pertama, sebagai sarana komunikasi politik. Kedua, sebagai sarana sosialisasi politik. Ketiga, saran rekrutmen politik. Keempat, partai politik sabagai sarana pengatur konflik. Sebuah sistem kepartaian yang kokoh dan mempunyai kapasitas, akan melakukan setidaknya dua hal. Pertama, melancarkan perluasan peran serta politik melalui jalur partai. Kedua, ia mencakup dan menyalurkan partisipasi sejumlah kelompok yang baru dimobilisasi.

ü  Struktur-struktur politik informal diluar partai.

Struktur-struktur politik informal seperti media massa, kelompok-kelompok berbasis agam, LSM atau NGO, dan asosiasi profesi telah menunjukan eksisitensinya dalam sistem politik setelah selam kurang lebih 32 tahun ditekan oleh pemerintah. bahkan ketika struktur politik formal mengalami kemandegan dan gagal memainkan fungsinya.

Proses politik dan kapabilitas sistem politik

Tipe-tipe fungsi politik:

Menurut Almond tipe-tipe fungsi olitik dibedakan menjadi tiga tipe

  1. Secara aktual, kita pelu untuk berfikir sistem berfungsi pada tingkatan-tingkatan yang berbeda.
  2. Sejenis fungsi internal dalam sistem. Proses konfersi ini merupakan cara bagaimana sistem-sistem khusus mentransformasikan input-input menjadi output.
  3. Tentang pemeliharaan sistem dan fungsi-fungsi adaptasi.

Fungsi-fungsi konversi

Almond mengklasifikasikan fungsi-fungsi konversi ini dalam enam kelompok, yakni pertam, fungsi-fungsi artikulasikepentingan atau tuntutan. Kedua, agregasi atau kombinasi artikulasi dan agregasi menjadi pengajuan atau proposal kebijkan. Ketiga, konversi proposal kebijakan menjadi keputusan-keputusan otoritatif. Keempat, aplikasi putusan-putusan umum ke dalam kasus-kasus spesifik. Kelima, adjudication of rule dalam kasus-kasus individu. Keenam, penebarluasan informasi.

Kapabilitas sistem politik

Pertama, kapabilitas ekstraktif, merupakan ukuran-ukuran kinerja sistem politik dalam mengumpulkan sumber-sumber material dari lingkuanga domestik dan internasional. Kedua, kapabilitas regulatif, merujuk pada aliran kontrol perilaku individu dan relasi-relasi kelmpok dalam sistem politik. Ketiga, kapabilitas distributif merujuk pada kemampuan sistem olitik dalam mengalikasikan barang-barang, jasa layanana, penghargaan, status, berbagai kesempatan yang berasal dari individu dan kelmpok-kelompok masyarakat. Keempat, kapabilitas simbolik, merujuk kepada tuntutan-tuntutan perilaku simbolik dari elit-elit politik. Kelima, kapabilitas responsif. Merujuk kepada kemampuan sistem politik untuk menagkap tuntutantuntutan yang berasal dari lingkuanga domestik dan internasional. Menurut Clifford Geertz, sistem nilai yang sangat berpengaruh dinegara-negara dunia ketiga adalah primordialisme yang didasarkan pada nilai-nilai agama, ras, suku, dan etnisitas. Diindonesia, ini mempunyai pengaruh terhadap struktur partai partai politik.

Lingkungan domestik

Mourice Duverger, memasukan lingkungan domestik ini sebagai bagian struktur politik. Menurutnya, struktur politik sebagai pengelompokan sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, struktur ini dapat didekati denga dua cara, yakni mengambil katgori yang bergam dari setiap masyarkat manusia dengan setiap kategori yang mewakili jenis struktur politik tertentu dan dengan mendasarkan studi-studi yang terdapat didalam semua atau hampir pada semua komunitas manusia. Menurutnya juga, struktur politik dibagi menjadi dua, yakni struktur fisik dan struktur sosial.

ü  Struktur fisikal.

Bagi indonesia sendir, struktur fisikal seperti ini telah banyak memberikan warna bagi sistem politik. Setidaknya, kebeagaman struktur fisikal yang merentang antara sabang sampai merauke telah memberikan bnyak karakter sosial dan politik masing-masing masyatrakat.

ü  Lingkungan geografis

Beberapa faktor yang bersifat geografis sangat menetukan pengaruhnya dalam kehidupan politik, diantaranya sebagaimana dikekukakan oleh Duverger, adalah iklim, sumber daya alam, dan ruang sebagai struktur politik.

ü  Struktur demogarfis

Jumlah, komposisi, dan tingkatan persebaran penduduk mempunyai pengaruh terhadap kehidupan politik.

ü  Kemampuan ekonomi

Seringkali terjadi,kemampuan ekonomi suatu negara merupakan produk geografis yang menentukan sumber-sumber alamiah yang tersedia untuk pembangunan.

ü  Pendidikan

Diindonesia, perubahan-perubahan bsar seringkaili terjadi sebagai hasil dari gerakan-gerakan sosial dan politik para mahasiswa dikampus-kampus, yang menuntut pemerintahan melakukan perubahan.

ü  Ideologi dan budaya politik

Di indonesia, perdebatan ideologi ini telah menyedot banyak perhatian di awal-awal kemerdekaan dan terus bergaung hingga beberapa waktu sesudahnya.

Lingkungan internasional

Hampir setiap sistem politik akan berinteraksi dengan sistem politi yang lain dalam lingkungan internasional. Namun, lingkungan internasional tidak hanya terbatas pada sistem politik lainnya. Lebih dari itu, lingkungan internasional mencakup pula komunitaskomuntas di tingkat internasional, LSM_LSM internasional yang mempunyai kekuatan penekan yang cukup besar, lembaga-lembaga governance global, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Winarno, Budi. 2007. Sistem Politik Indonesia Era Reformasi. Jakarta: MedPress.

sore dibelakang rumah

ini hanyalah potongan pemandangan kecil dibelakang rumahku yang sederhana, diambil dengan kamera handphone yang tak berpixel besar. tapi beberapa foto ini begitu indah tanpa kepalsuan.

pantai drini part 2

pantai drini

paper asas ukd 2

UKD 1

paper asas ukd 3

UKD 2

resume buku tugas dasar logika

paper daslog

tugas teori sosiologi klasik

tsk

kita harus bahagia

KITA HARUS BAHAGIA

langitku